Crypto · 5 min read · 9 views
CLARITY Act Mandek di Senat AS: SEC, CFTC, dan The Fed Ambil Alih Kemudi Regulasi Kripto
Setelah RUU CLARITY Act gagal maju di Senat AS lewat voting 49-50, SEC, CFTC, dan Federal Reserve bergerak cepat menerbitkan aturan dan pengecualian tersendiri untuk mengisi kekosongan regulasi aset kripto dalam waktu kurang dari sepekan.
GD
I Gusti Agung Ganes Satsangga Dipa
Backend & Software Developer
# Pembukaan
Upaya Kongres Amerika Serikat merampungkan kerangka hukum tunggal untuk pasar aset digital kembali kandas. Pada 15 September, Senat AS gagal meloloskan RUU market-structure kripto yang dikenal sebagai CLARITY Act (H.R. 3633) lewat pemungutan suara prosedural 49 lawan 50 — jauh dari ambang 60 suara yang disyaratkan ([TokenPost](https://tokenpost.com/news/regulation/24451)). Tiga senator Republik ikut menolak setelah negosiasi buntu soal ketentuan etika yang menyinggung bisnis aset digital yang terafiliasi dengan Presiden Donald Trump ([NILE1](https://nile1.com/u-s-crypto-regulators-move-after-senate-blocks-clarity-act-in-49-50-vote)).
Alih-alih menunggu proses legislasi berikutnya, badan-badan regulator federal bergerak sendiri. Dalam rentang waktu kurang dari sepekan setelah pemungutan suara gagal itu, Securities and Exchange Commission (SEC), Commodity Futures Trading Commission (CFTC), dan Federal Reserve masing-masing mengumumkan langkah kebijakan yang secara de facto mengambil alih sebagian ruang yang seharusnya diatur RUU tersebut ([Gate News](https://gate.com/news/detail/SOL/senate-clarity-act-fails-as-sec-cftc-fed-issue-crypto-rules-24573396)). Perpindahan arena dari Capitol Hill ke meja regulator ini menjadi penanda babak baru: kebijakan kripto AS untuk sementara akan dibentuk oleh kewenangan administratif yang sudah ada, bukan oleh undang-undang baru.
Artikel ini merangkum tiga langkah utama — Innovation Exemption dari SEC, no-action relief dari CFTC, serta proposal cadangan stablecoin dari Federal Reserve — dan implikasinya bagi pelaku pasar. Sebagai catatan, tulisan ini bersifat informatif dan tidak dimaksudkan sebagai nasihat investasi.
## Daftar Isi
- [Bagian 01 — CLARITY Act Kandas di Senat](#bagian-01)
- [Bagian 02 — SEC Buka Jalan Tokenized Stock Lewat Innovation Exemption](#bagian-02)
- [Bagian 03 — CFTC Beri Kelonggaran ke Penyedia Wallet dan Software Non-Kustodian](#bagian-03)
- [Bagian 04 — Federal Reserve Susun Aturan Cadangan Stablecoin di Bawah GENIUS Act](#bagian-04)
- [Bagian 05 — Mengapa Tiga Agensi Bergerak Bersamaan](#bagian-05)
- [Kesimpulan](#kesimpulan-artikel)
- [Sumber](#sumber-artikel)
<a id="bagian-01"></a>
## 01 — CLARITY Act Kandas di Senat

> **Highlight:** Voting 49-50 di Senat pada 15 September menandai kegagalan kedua bagi upaya membagi yurisdiksi kripto antara SEC dan CFTC lewat jalur legislasi, sekaligus membuka ruang bagi regulator untuk memakai kewenangan yang sudah mereka miliki.
CLARITY Act dirancang lebih dari setahun untuk secara resmi membagi pengawasan aset digital antara SEC (untuk token yang bersifat sekuritas) dan CFTC (untuk komoditas digital). RUU ini sempat dianggap sebagai kompromi bipartisan setelah lolos di DPR, namun negosiasi di Senat memburuk ketika sejumlah anggota mempersoalkan potensi konflik kepentingan terkait usaha kripto yang terhubung dengan lingkaran Presiden Trump ([NILE1](https://nile1.com/u-s-crypto-regulators-move-after-senate-blocks-clarity-act-in-49-50-vote)). Akibatnya, tiga senator Republik bergabung dengan blok Demokrat menolak motion untuk melanjutkan pembahasan, dan RUU itu pun mangkrak tanpa kepastian jadwal baru.
<a id="bagian-02"></a>
## 02 — SEC Buka Jalan Tokenized Stock Lewat Innovation Exemption
Dua hari setelah voting Senat, Ketua SEC Paul Atkins mengumumkan "Innovation Exemption" yang memberi kelonggaran sementara bagi platform tertentu untuk memperdagangkan saham AS yang sudah ditokenisasi (tokenized NMS stocks) di lingkungan permissioned, tanpa harus mendaftar sebagai bursa efek nasional berdasarkan Section 3(a)(1) Exchange Act ([TokenPost](https://tokenpost.com/news/regulation/24451)). Komisioner SEC Mark T. Uyeda menyebut kelonggaran ini membatasi jumlah simbol yang boleh diperdagangkan dan volume transaksi, serta mewajibkan publikasi data transaksi harian seperti harga, ukuran order, dan volume pool secara berkala. Atkins menegaskan langkah ini bersifat sementara sambil menunggu aturan permanen yang lebih komprehensif untuk perdagangan on-chain.
<a id="bagian-03"></a>
## 03 — CFTC Beri Kelonggaran ke Penyedia Wallet dan Software Non-Kustodian
Pada tanggal yang sama, divisi Market Participants CFTC menerbitkan posisi no-action bagi penyedia perangkat lunak pasif — termasuk aplikasi dompet kripto dan antarmuka terdesentralisasi — yang menghubungkan pengguna ke pasar derivatif teregulasi tanpa memegang dana klien. Dengan posisi ini, pengembang semacam itu tidak perlu mendaftar sebagai introducing broker atau futures commission merchant di bawah Commodity Exchange Act ([Gate News](https://gate.com/news/detail/SOL/senate-clarity-act-fails-as-sec-cftc-fed-issue-crypto-rules-24573396)). CFTC juga mengirimkan rancangan aturan struktur pasar yang lebih luas ke Kantor Manajemen dan Anggaran Gedung Putih (OIRA) untuk ditinjau lintas-agensi; isi lengkapnya belum dipublikasikan hingga proses tinjauan itu rampung.
<a id="bagian-04"></a>
## 04 — Federal Reserve Susun Aturan Cadangan Stablecoin di Bawah GENIUS Act
Langkah ketiga datang dari Federal Reserve, yang pada 24 September mengusulkan standar kehati-hatian bagi penerbit stablecoin pembayaran yang berada di bawah pengawasannya, sesuai mandat GENIUS Act — undang-undang stablecoin federal yang ditandatangani Trump pada 2025 ([TokenPost](https://tokenpost.com/news/regulation/24451)). Berikut ringkasan poin utamanya:
| Aspek | Ketentuan yang Diusulkan |
|---|---|
| Cadangan aset | Wajib dukungan 1:1 berupa Treasury jangka pendek, saldo cadangan bank sentral, atau reverse repo |
| Permodalan | Standar modal wajib untuk risiko kredit dan operasional |
| Manajemen risiko | Kerangka manajemen risiko terstandardisasi bagi bank penerbit |
| Proses persetujuan | Jalur pengajuan bagi bank di bawah pengawasan Fed yang ingin menerbitkan stablecoin |
| Masa komentar publik | Ditutup 60 hari setelah publikasi resmi di Federal Register |
Sementara itu, Office of the Comptroller of the Currency (OCC) — yang berwenang atas charter bank penerbit stablecoin nonbank di bawah pengawasan Fed — disebutkan terus menggodok aturan pencatatan domestiknya sendiri dan menargetkan standar final terbit November, menjelang tenggat implementasi wajib Januari.
<a id="bagian-05"></a>
## 05 — Mengapa Tiga Agensi Bergerak Bersamaan
Pola tiga agensi bergerak nyaris serentak ini bukan kebetulan. Ia mencerminkan pergeseran gaya pengawasan dibanding era Ketua SEC sebelumnya, Gary Gensler, yang selama pemerintahan Biden banyak mengandalkan tindakan penegakan hukum (enforcement) untuk memaksa platform kripto, penyedia staking, dan penerbit token tunduk pada Securities Act 1933 dan Securities Exchange Act 1934, dengan dasar bahwa mayoritas token digital adalah kontrak investasi menurut uji Howey ([NILE1](https://nile1.com/u-s-crypto-regulators-move-after-senate-blocks-clarity-act-in-49-50-vote)). Di bawah Atkins, SEC memilih memakai kewenangan pengecualian yang sudah tersedia dalam undang-undang lama, bukan menunggu produk legislasi baru. Kegagalan CLARITY Act di Senat mempercepat kalkulasi itu: ketimbang membiarkan kekosongan aturan berlarut, tiap agensi memilih mengisi celah sesuai domain masing-masing — sekuritas, derivatif, dan perbankan/pembayaran — sambil tetap membuka pintu bagi Kongres merampungkan kerangka permanen di kemudian hari.
<a id="kesimpulan-artikel"></a>
## Kesimpulan
Kegagalan CLARITY Act menunjukkan bahwa jalur legislasi untuk aset digital di AS masih rapuh secara politik, terutama ketika bersinggungan dengan isu etika dan konflik kepentingan. Namun kekosongan itu tidak dibiarkan kosong lama: SEC, CFTC, dan Federal Reserve menunjukkan bahwa otoritas administratif yang ada sudah cukup untuk menghadirkan kepastian jangka pendek bagi tokenized stock, penyedia software non-kustodian, dan penerbit stablecoin. Bagi pelaku industri, ini berarti kepatuhan regulasi kini harus dipetakan lewat kombinasi aturan lintas-agensi yang berubah cepat, bukan menunggu satu paket undang-undang tunggal. Perkembangan berikutnya yang layak dipantau adalah publikasi rancangan aturan CFTC di Federal Register serta hasil masa komentar publik proposal stablecoin The Fed.
<a id="sumber-artikel"></a>
## Sumber
- TokenPost — [U.S. Agencies Take Separate Crypto Steps After CLARITY Act Vote Fails](https://tokenpost.com/news/regulation/24451)
- NILE1 — [U.S. crypto regulators move after Senate blocks Clarity Act in 49-50 vote](https://nile1.com/u-s-crypto-regulators-move-after-senate-blocks-clarity-act-in-49-50-vote)
- Gate News — [Senate Clarity Act Fails as SEC, CFTC, Fed Issue Crypto Rules](https://gate.com/news/detail/SOL/senate-clarity-act-fails-as-sec-cftc-fed-issue-crypto-rules-24573396)
GD
Tentang Penulis — Ganes Satsangga
Backend Developer berpengalaman membangun aplikasi web, sistem ERP/CMS, integrasi API, dan database menggunakan Laravel, PHP, dan Go.


